Senin, 23 November 2015

Mantapkan Hati dengan IUD


            Keluarga Berencana menurut  World Health Organisation  (WHO)  expert committee  1997, adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari  kehamilan  yang  tidak  diinginkan,  mendapatkan kelahiran  yang memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara  kehamilan, mengontrol waktu  saat  kelahiran  dalam  hubungan  dengan  umur  suami  istri  serta menentukan jumlah anak dalam keluarga (Suratun, 2008).
            Setelah kita mengetahui tentang Keluarga Berencana, terdapat upaya untuk mendukung  program KB tersebut yaitu kontrasepsi. Kontrasepsi  berasal dari kata kontra / mencegah dan konsepsi / pertemuan antara sel telur dengan sel sperma yang mengakibatkan  kehamilan,  sehingga  kontrasepsi  adalah  upaya  untuk mencegah  terjadinya  kehamilan  dengan  cara  mengusahakan  agar  tidak terjadi  ovulasi,  melumpuhkan atau menghalangi  pertemuan  sel telur dengan sel sperma (Wiknjosastro, 2003). Dalam kontrasepsi terdapat berbagai alat yang dapat digunakan untuk mencegah kehamilan seperti Pil KB, Kondom , Tubektomi, Vasektomi, IUD, serta KB Suntik. Dari berbagai alat kontrasepsi di atas saya mengambil satu topik bahasan mengenai IUD. Alasan saya memilih pokok bahasan IUD karena alat kontrasepsi IUD dinilai efektif untuk digunakan sebagai alat kontrasepsi. Keefektivitasan  IUD  adalah:  Sangat  efektif  yaitu  0,5 –  1  kehamilan  per 100  perempuan  selama  1  tahun pertama  penggunaan  (Sujiyantini  dan Arum,2009).
            Berbagai para ahli telah berpendapat mengenai definisi IUD menurut (Hidayati, 2009) adalah alat kontrasepsi modern yang dirancang  sedemikian  rupa, diletakkan dalam kavum uteri sebagai usaha kontrasepsi,  menghalangi  fertilisasi,  dan  menyulitkan  telur berimplementasi dalam uterus. Menurut (Handayani, 2010) AKDR atau IUD atau Spiral ,suatu benda kecil yang terbuat dari plastik lentur, mempunyai lilitan tembaga dan mengandung  hormone  serta  di  masukkan  ke  dalam  rahim  melalui  vagina dan mempunyai benang. Menurut (Kusmarjati, 2011) IUD  merupakan alat  kontrasepsi  yang  dimasukkan  ke  dalam rahim berbentuk  bermacam-macam,  terdiri  dari  plastik (polythyline),  ada  yang  dililit  tembaga  (Cu)  ada  pula  yang  tidak,  tetapi ada  pula  yang  dililit  dengan  tembaga  bercampur  perak  (Ag).  Selain  itu \ada pula yang batangnya berisi hormon progesterone. Untuk jenis-jenis IUD sendiri terdapat lima jenis Copper-T, Progestasert  IUD, Multi load, dan Lippes loop.
            Cara Kerja IUD Menurut Saifudin (2010), pertama IUD akan menghambat kemampuan sperma untuk masuk ketuba falopi, kemudian IUD akan mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri, dan ketiga AKDR akan membuat  sperma  sulit  masuk  kedalam  alat reproduksi  perempuan  dan  mengurangi  kemampuan  sperma  untuk fertilisasi.
            Pada penggunaan IUD terdapat begitu banyak keuntungan  -  keuntungan yang akan membuat konsumen merasa puas, Keuntungan  -  Keuntungan AKDR yaitu (Saifuddi, 2006), sebagai  kontrasepsi  efektifitas  tinggi 6-0,8 kehamilan /100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan), AKDR  dapat  efektif segera  setelah pemasangan, metode  jangka  panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti), sangat  efektif  karena  tidak  perlu  lagi mengingat-ingat, seperti pil atau suntik, dapat  di  pasang  segera  setelah melahirkan  atau  sesudah  abortus (apabila  tidak  terjadi  infeksi). IUD juga dapat digunakan  sampai  menopause  (1  tahun atau  lebih  setelah  haid  terakhir), tidak ada interaksi dengan obat-obat, tidak memengaruhi  kualitas  dan  volume  ASI seperti  metode  kontrasepsi  hormonal, angka  ekspulsi  AKDR  pada  pemasangan  10  menit setelah plasenta lahir lebih rendah, insersi  AKDR  segera  setelah  plasenta  lahir  dapat  dilakukan dengan  aman  dan  efektif. Metode  pemasangan IUD  dapat  dilakukan  pada masa  interval  wanita  usia  subur  maupun  pada  pasca persalinan, lilitan logam IUD menyebabkan reaksi anti fertilitas dengan waktu 2-10 tahun, dengan metode kerja mencegah masuknya spermatozoa ke dalam saluran tuba, tidak  memengaruhi  hubungan  seksual, meningkatkan kenyamanan seksual karena karena rasa aman terhadap risiko kehamilan. Penggunaaan IUD tidak  akan ada  efek  samping  hormonal dengan  Cu  AKDR  (CuT-380A), lebih murah dari KB suntik atau pil, serta membantu mencegah kehamilan ektopik.
            Untuk waktu pemasangan IUD dapat dilakukan (Bari,2006) sewaktu haid sedang berlangsung dan dipastikan klien tdak hamil, keuntungannya  pemasangan  lebih  mudah  oleh  karena  servik pada waktu agak terbuka dan lembek. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid, beberapa hari setelah haid terakhir, setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca persalinan; setelah 6 bulan apabila menggunakan  metode amenorea laktasi (MAL). Setelah terjadinya keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi, selama 1 sampai 5 hari setelah sanggama yang tidak dilindungi, sewaktu post partum (Secara  dini , Secara  langsung, Secara tidak langsung) dan abortus.
            Selain waktu pemasangan pengguna juga perlu memperhatikan waktu untuk kontrol IUD (Bari, 2006) pada saat 1 bulan pasca pemasangan, 3 bulan kemudian, setiap 6 bulan berikutnya, bila terlambat haid 1 minggu, perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya. Perhatikan pula kontra indikasinya (Kusumaningrum, 2009) untuk wanita hamil atau diduga hamil , terdiagnosa infeksi leher rahim atau rongga panggul, termasuk penderita penyakit kelamin, riwayat radang rongga panggul, penderita perdarahan pervaginam yang abnormal, riwayat kehamilan ektopik dan juga pada penderita kanker alat kelamin.



 

Life Template by Ipietoon Cute Blog Design