Minggu, 18 Oktober 2015

Etika Penelitian

Etika Penelitian
              Etika penelitian adalah sebuah integritas ilmiah, suatu  prinsip pemikiran ilmiah yang mengedepankan kejujuran ,(Richard Feynman: "Cargo Cult Science" (1974)). Sebagai contoh, jika anda melakukan percobaan, anda harus melaporkan segala sesuatu yang anda pikir mungkin pembuatannya tidak
valid  maupun tidak terpercaya kebenarannya..1Etika yang berasal dari bahasa Yunani yaitu "etos" adalah sebuah tradisi, kebiasaan studi filosofis tentang prinsip-prinsip di dasari oleh moral.1Penelitian adalah suatu proses penjelajahan / penemuan.1 Suatu  penelitian yang didasari oleh etika maka akan dihasilkan penelitian yang terdapat hubungan implisit antara kejujuran dalam pelaksanaan penelitian dan validitas data penelitian tersebut, dan jika aplikasi teori dan teknologi digunakan, maka hal terpenting dari temuan peneliti harus didasarkan pada kejujuran.1
              Penelitian dilakukan oleh individu, bukan oleh institusi , pikiran kreatif dan intuitif adalah sumber dasar untuk sebuah penemuan penelitian.1 Selain itu kualitas pikiran, etika dan energi dari individu merupakan kerangka untuk program produktif dan lembaga.1 Setelah melakukan sebuah penelitian hasil penelitian akan dituangkan dalam sebuah karya ilmiah.1 Pada pembuatan sebuah karya ilmiah memiliki beberapa syarat yang harus diperhatikan yaitu , Salience merefleksikan relevansi karya ilmiah yang mampu merespon kebutuhan masyakarat.1 Credibility  mecerminkan kemampuan penulis untuk memenuhi persayaratan teknis dan standar keilmuan, sehingga dapat diterima oleh pengguna ilmu dengan jaminan informasi yang diberikan akurat, valid dan memiliki kualitas yang tinggi.1  Legitimacy menggambarkan suatu karya ilmiah harus bebas dari bias, dimana dikembangkan secara transparan dan mengedepankan kepentingan masyarakat luas dalam pemikirannya.1
Hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam etika penelitian adalah (repository.ui.ac.id):
·               Peneliti membaktikan diri pada pencarian kebenaran ilmiah untuk memajukan ilmu pengetahuan, menemukan teknologi, dan menghasilkan inovasi bagi peningkatan peradaban dan kesejahteraan manusia
·               Peneliti melakukan kegiatannya dalam cakupan dan barisan yang diperkenankan oleh hukum yang berlaku, bertindak dengan mendahulukan kepentingan dan keselamatan semua pihak yang terkait dengan penelitiannya, berlandaskan tujuan mulia berupa penegakan hak-hak asasi manusia dengan kebebasan-kebebasan mendasarnya
·               Peneliti mengelola sumber daya keilmuan dengan penuh rasa tanggung jawab, terutama dalam pemanfaatannya, dan mensyukuri nikmat anugerah tersedianya sumber daya keilmuan baginya
·               Peneliti mengelola jalannya penelitian secara jujur, bernurani, dan berkeadilan terhadap lingkungan penelitiannya; menghormati obyek penelitian manusia, sumber daya alam hayati dan non-hayati secara bermoral; berbuat sesuai dengan perkenan kodrat dan karakter objek penelitiannya, tanpa diskriminasi dan tanpa menimbulkan rasa merendahkan martabat sesama ciptaan Tuhan
·               Peneliti membuka diri terhadap tanggapan, kritik, dan saran dari sesama peneliti terhadap proses dan hasil penelitian, yang diberinya kesempatan dan perlakuan timbal balik yang setara dan setimpal; saling menghormati melalui diskusi dan pertukaran pengalaman dan informasi ilmiah yang objektif
Prosedur Etika Riset
              Artikel “Ethics in Research” (dalam www.socialresearchmethods.net) menjabarkan beberapa prosedur etika dalam melakukan riset, ditinjau dari sisi subjek penelitiannya. Prosedur yang pertama adalah partisipasi sukarela subjek penelitian, terutama subjek di tempat-tempat seperti penjara, pengungsian, atau yang berhubungan dengan korban perang dan tindak kekerasan.2 Kesukarelaan ini diperlukan karena berkaitan dengan publikasi hasil riset yang sarat akan hal-hal yang mungkin tabu (informed consent), dan karenanya berisiko bagi subjek penelitian.2 Prosedur kedua adalah berkenaan dengan prinsip kerahasiaan (confidentiality), yaitu informasi subjek hanya akan digunakan berkaitan dengan kepentingan riset dan akan dijaga kerahasiaannya jika hasil riset tidak dipublikasikan.2 Prosedur ketiga adalah prinsip anonim (anonimity), baik itu bagi subjek maupun peneliti itu sendiri, terutama jika itu berkaitan dengan alasan keamanan dan keselamatan.2 Prosedur yang terakhir adalah rights of services, yaitu perlakuan khusus berupa kunjungan rutin pascariset bagi subjek penelitian sebagai bentuk tanggung jawab peneliti terhadap permasalahan yang ia teliti.2 Selain dari sisi subyek penelitian, etika riset juga menyangkut originalitas dalam isi penelitian.2 Philip dan Plugh (dalam Blaxter, et.al., 2001:18) mendefinisikan originalitas riset ke dalam lima belas definisi.2 Originalitas tidak hanya menyangkut asli atau tidaknya kalimat-kalimat dan frasa yang digunakan peneliti dalam karya tulisnya, namun juga menyangkut ide awal riset, teknik observasi, metode, cara interpretasi, dan sintesis yang digunakan.2 Akan tetapi, hal ini bukan berarti sebuah riset haruslah benar-benar baru.2 Seorang peneliti dapat melanjutkan sebuah pekerjaan original sebelumnya, namun dengan teknik, metode, dan cara interpretasi yang berbeda atau dengan menggunakan teknik, metode, dan interpretasi yang sama, namun dapat menghadirkan bukti dan data kompeten yang berbeda untuk menunjang risetnya.2 Kelalaian maupun kesengajaan peneliti terhadap aspek-aspek dalam prinsip originalitas dapat berujung pada tindak plagiarisme.2 Dalam “A Guide to Research Ethics” (2003:11)[2], plagiarisme dimaknai sebagai tindakan penggunaan seseorang atas gagasan, teori, dan kata-kata orang lain dan kemudian melakukan klaim atas dirinya sendiri.2 Plagiarisme sendiri dapat dimaknai ke dalam berbagai bentuk, baik itu mengutip secara langsung hasil penelitian orang lain maupun melakukan parafrasa tanpa menyertakan sitasi dari sumber aslinya.2 Selain plagiarisme, contoh pelanggaran etika penelitian adalah pengubahan (manipulasi) data atau informasi, penyalahgunaan data atau informasi, pengakuan dan penggunaan data atau informasi tanpa ijin, publikasi hasil penelitian penugasan tanpa ijin, tidak merahasiakan sumber data yangg semestinya dirahasiakan, tidak menghormati responden, dan tidak menyusun laporan hasil penelitian (nic.unud.ac.id).2
Aturan praktek ilmiah yang baik (diadopsi oleh Senat dari MPG pada 24 November 2000: Mereka mengikat semua orang aktif dalam pekerjaan penelitian "di Institut Max Planck"1 :
1. Prinsip-prinsip umum dari praktek ilmiah
- Memperhatikan aturan disiplin khusus untuk memperoleh dan memilih data
- Mengamankan dan menyimpan data primer, dokumentasi yang jelas dan dipahami
- Skeptisisme sistematis
- Realisasi diam-diam, asumsi aksiomatik
- Tidak ada halangan dari karya ilmiah pesaing
- Promosi aktif ilmuwan junior kualifikasi ilmiah
- Keterbukaan terhadap kritik dan keraguan yang diungkapkan oleh para ilmuwan lainnya
- Hati-hati, non-diri tertarik dan penilaian berprasangka rekan
- Publikasi hasil yang diperoleh melalui dana publik
- Publikasi hipotesis dipalsukan, pengakuan kesalahan
- Jujur dalam pengakuan kontribusi orang lain
2. Kerjasama dan kepemimpinan tanggung jawab dalam kelompok kerja
- Tanggung jawab kelompok kepala untuk monitoring, resolusi konflik, kontrol kualitas
- Kepemimpinan membutuhkan keahlian, kehadiran, dan perspektif yang luas
- Delegasi dari kepemimpinan yang diperlukan
- Hasil yang dicapai di daerah khusus harus timbal balik dari hirarki
- Diatur bentuk (biasa kolokium) direkomendasikan untuk kelompok yang lebih besar
- Hasil penting yang harus dua kali diperiksa dalam kelompok penelitian
3. Bimbingan bagi para ilmuwan junior
- Memperhatikan pelatihan dan kelanjutan, termasuk praktek ilmiah yang baik
- Kerjasama yang baik dengan perguruan tinggi
- Kontak person master dan PhD siswa, postdocs muda
- Pembentukan komite tesis
4. Mengamankan dan menyimpan data primer
- Toko untuk setidaknya 10 tahun, akses ke orang-orang dengan minat yang dibenarkan
- Laporan lengkap dan memadai pada percobaan dan perhitungan numerik untuk memastikan reproduktifitas, untuk disimpan selama setidaknya 10 tahun
- Manajemen lembaga yang bertanggung jawab untuk menentukan pedoman rinci
5. Publikasi ilmiah
- Deskripsi yang komprehensif, kredit penuh dan benar
- Tidak ada publikasi beberapa
- Bertentangan bukti yang akan dibuat dikenal
- Penulis reqiures contributin cukup dengan desain penelitian, untuk bekerja keluar, menganalisis atau inteprenting data dan menulis kertas
- "Kepenulisan horonary" sudah tidak diizinkan
6. Penunjukan ombudsman
- Salah satu yang terpilih ilmuwan per lembaga
- Titik kontak dalam hal praktek ilmiah yang baik
- Penasehat confidental untuk semua prihatin dalam kasus dugaan Thereis dari melanggar aturan dari praktek ilmiah yang baik
- Dalam hal ini independen peran direksi lembaga
- Di samping itu, pada ombudperson untuk bagian eeach dari MPG
              Aturan prosedur dalam kasus dugaan "kesalahan ilmiah" (adobted oleh Senat dari MPG pada 14 November 1997 diubah pada 24 November 2000)1 :
1. Permintaan Awal
- Pemberitahuan Direktur Managing (MD), yang memberitahu Wakil Presiden (VP)
- Kedua (atau VP saja) memperkenalkan tersangka dengan bukti yang memberatkan
- Respon karena dalam 3 minggu
- MD dan VP memutuskan cuaca untuk melanjutkan penyelidikan
- Jika kesalahan adalah terbukti: rekomendasi pada sanksi untuk MPG
- Jika kesalahan dicurigai, namun tidak terbukti: penyelidikan formal
- Tersangka untuk didengar pada setiap tahap
- Kerahasiaan yang ketat sampai kesalahan bersalah telah terbukti
2. Penyelidikan formal
- Comittee: Ketua, VP, 3 dvisers dari bagian, kepala ke aff hukum.
- Ketua bukan anggota dari MPG, mungkin mengkooptasi ahli nonvoting
- Proses Oral; lembaga dan tersangka diberikan sidang lisan
- Nama informan dapat diungkapkan pada tahap ini
- Keputusan oleh cuaca suara mayoritas pelanggaran telah ditetapkan
- Jika ya: rekomendasi kepada Presiden untuk keputusan
- Tidak ada prosedur internal keluhan mengenai keputusan panitia ini
Katalog kemungkinan sanksi atau konsekuensi1 :
1. Tenaga Kerja konsekuensi hukum
- Teguran secara tertulis dan enterned ke dalam file pribadi
- Pemberhentian yang luar biasa
- Saling pembatalan
2. Konsekuensi Akademik
- Penarikan gelar doktor
- Penarikan lisensi untuk mengajar
3. Konsekuensi hukum Sipil
- Klaim restitutory, penyerahan hibah, klaim kerusakan
              Bagaimana Reaksi ketika menjumpai Perbuatan Penelitian Yang mencurigakan ATAU melanggar Praktek Ilmiah yang Baik ?1 :
- Kewajiban etis untuk bertindak kasus int dari dugaan pelanggaran
- Mencari nasihat dari rekan-rekan yang terpercaya, postdocs, ilmuwan senior yang
- Mencari nasihat dari penasihat tesis / kelompok / kepala departemen Anda
- Mencari nasihat dari Ombudperson (lembaga, bagian, atau DFG) Ombudman untuk MPS: Manfred Schussler
- Menginformasikan Direktur Managinng Institut
Bagaimana bisa praktek ilmiah yang baik dipertahankan dan kesalahan yang harus dihindari?1 :
- Pendidikan dan informasi
- Aturan yang jelas di unit penelitian dan kerjasama
- Kebijakan Data Terbuka
- Mencapai keseimbangan yang sehat antara tekanan dan evaluasi dll dan kebebasan dan kepercayaan peneliti
- Cek and balances dalam peer review
- Kredit yang tepat untuk meninjau rekan, mentoring, dan pendidikan
Contoh Kasus Pelanggaran Etika Riset
              Salah satu pelanggaran etika penelitian adalah penipuan saintifik (scientific fraud), yaitu usaha untuk memanipulasi fakta-fakta atau menerbitkan hasil kerja orang lain secara sengaja.2 Pada tahun 1830, matematikawan dari Inggris bernama Charles Babbage (dalam Nur, 2004) menerangkan teknik manipulasi data, yakni trimming (menghapus data yang tidak cocok dengan hasil yang diharapkan) dan cooking (memilih data yang hanya cocok dengan hasil yang diharapkan sehingga membuat data lebih meyakinkan).2 Kasus penipuan saintifik salah satunya ditemukan pada tahun 1980-an, dimana seorang kardiolog muda bernama John Darsee, yang bekerja di salah satu lembaga riset bergengsi di dunia yaitu Harvard Medical School di Boston, Massachusetts (Nur, 2004).2 Dia dikenal sebagai ilmuwan yang berbakat karena telah mempublikasikan hampir 100 artikel dan abstrak dalam masa dua tahun di Harvard.2 Pada tahun 1981, rekan-rekan kerja Darsee mengetahui dan melaporkan kepada kepala laboratorium bahwa dia telah membuat data palsu dalam eksperimen.2 Mereka juga melaporkan bahwa Darsee juga telah memalsukan data di beberapa artikel yang telah dipublikasikan.2 Ketika diselidiki, Darsee mengaku telah melakukan hal tersebut.2 Penyelidikan berikutnya juga menemukan bahwa Darsee telah memalsukan data bukan saja di Harvard, tetapi di posisi sebelumnya di Emory University di Georgia dan bahkan ketika sebagai mahasiswa sarjana di Notre Dame University di Indiana.2 Darsee dikeluarkan dari Harvard dan ditutup kemungkinannya untuk menerima dana riset dari pemerintah. Artikelnya di jurnal yang memuat data palsu tersebut juga telah ditarik kembali.2









DAFTAR PUSTAKA
1.      Schussler Manfred, MPS, Katlenburg-Lindau. Research ethics a reader. London: University press of new england hanover and london;1997.

2.      Putri. Etika penelitian [internet]. Amerika: Niehs; 2011 [diubah November 2012; diakses pada 13 November 2012]. Dari: http://putrinyaperwira-fisip09.web.unair.ac.id /artikel_detail-64789-Analisis%20Hubungan%20Internasional-Etika%20Penelitian.html 

Rabu, 14 Oktober 2015

Pelangi Pelangi
            Pada suatu hari di sebuah kota besar tinggalah seorang gadis bernama Carlita Angel , biasanya dia di panggil Carlita oleh teman dan keluarganya. Dia lahir dari keluarga kaya dan berkeyakinan kristen katolik. Dia adalah anak satu-satunya,dia juga menjadi anak kesayangan bagi kedua orangtuanya, papanya bernama Herman dan mamanya bernama Maria. Carlita adalah gadis berusia 18 tahun, dia memiliki bakat bernyanyi, gadis yang berparas cantik, berlaku anggun,bersifat baik dan sangat menyayangi binatang. Dari kecil Carlita sangat senang jika diminta untuk menyanyi, suaranya terdengar begitu indah. Pernah ia menjuarai kontes bernyanyi dalam lomba tingkat nasional,dia membawakan lagu yang berasal dari luar negeri, kontes ini dimenangkannya pada saat ia berada di bangku kelas 2 SMA.
            Hari libur tiba, setiap weekend Carlita sekeluarga mengunjungi panti asuhan untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Disana Carlita juga turut menghibur anak-anak dengan memperlihatkan suara emasnya, anak-anakpun terlihat menikmati suara Carlita dengan tersenyum serta  bernyanyi mengikuti lagu yang dibawakan Carlita. Setelah acara di panti asuhan biasanya Carlita sekeluarga mampir untuk jalan-jalan, entah ke mall, restaurant, pantai dan kemanapun yang ia mau. Pada hari minggu ia sekelurga pergi ke gereja untuk berdoa kepada Tuhan, selepas itu ia kembali kerumah untuk beristirahat sejenak. Dikeseharian Carlita ia hanya menggunakan waktunya dengan les musik untuk mengasah bakat yang ia miliki dari kecil, sebenarnya Carlita berkeinginan untuk memasuki perguruan tinggi ataupun swasta ia ingi mengambil di bidang seni karna kecintaannya terhadap musik. Pernah Carlita meminta izin kepada orangtuanya untuk mendaftar di perguruan tinggi yang berada luar kota namun, mama Carlita belum siap jika melihat putri semata wayangnya merantau di luar kota hingga akhirnya ia hanya mengikuti les musik yang sekarang menjadi rutinitasnya.
            Seminggu berlalu, Carlita sekeluarga berencana untuk kembali pergi mendatangi panti asuhan yang biasa ia kunjungi. Sebelum berangkat Carlita dan mama Maria berbelanja berbagai macam makanan dan menyiapkan baju yang ingin dibawa kesana, baju yang dipersiapkan Carlita tampak lucu-lucu untuk anak seusia mereka. Tapi sayangnya Papa Carlita tidak ikut serta karena harus menyelesaikan tugas di luar negeri kerena ia seorang Direktur di salah satu perusahaan terkenal yang berada di Jakrata. Setiba disana Carlita membawa baju dan banyak makanan untuk anak-anak panti, mereka bahagia mendapatkan semua itu, terlihat dari antusias mereka dan tawa ceria dari wajah mereka. Carlita : Hayoo.. lihat niii kakak bawa apa?? Ini di bagi satu-satu ya? Jangan berebut. . anak pintar J! Ucap Carlita sambil mengelus rambut salah satu anak-anak tersebut. Iya kak, terimakasih atas hadiahnya, kami semua senang J. Sahut salah satu gadis yang berada di dekat Carlita, dan Carlita membalas dengan senyum bahagianya. Sesudah itu Carlita pergi ke taman kecil yang berada di halaman depan Panti, disitu ada jembatan kolam dan air mancur yang membuat Carlita merasa tenang. Tiba-tiba Carlita mendengar suara “Debrukk..” dan berkata dalam hati, ‘sepertinya ada yang jatuh, tapi apa?’ Carlita penasaran dan segera menghampiri sumber suara tersebut.

            Beberapa detik kemudian ‘Aduh.. . sakit! Aduuuuhh...!!’ tampak seorang pemuda yang teriak kesakitan sambil memegang pinggangnya dengan raut wajah kesakitan. Carlita mencoba bertanya pada pemuda tersebut, “Kamu kenapa? Kok bisa jatuh seperti itu, sini aku bantu.” , namun pemuda tersebut menolak dan mencoba berdiri sendiri “ Tidak usah nona cantik, aku bisa kok. Cuman segini udah biasa” sahut pemuda dengan gaya sombongnya. Lalu terjadilah percakapan antara mereka berdua dan akhirnya mereka saling mengenal. “Oh..iya,ngomong-ngomong kamu darimana? Asli orang sini ?” tanya pemuda tersebut kepada Carlita, “Enggak kok, aku memang setiap weekend kesini nengokin anak-anak panti, kasihan mereka udah ngg punya siapa-siapa.!” Jawab Carlita. Satu  jam berlalu terdengar ada suara yang memanggil Carlita “Carlita sayang, kamu dimana nak, mama mau ada arisan ayok kita pulang”, “ iyaa mah, tunggu sebentar, sebentar lagi Carlita nyusul!” jawab Carlita, “Eh,  udah dulu ya mama aku mau ada acara.. daaaa...!” kata Carlita kepada pemuda tersebut, dan dengan sengaja pemuda itu menghalangi langkah Carlita, dengan bingungnya Carlita berkata “Loh, ada apa?” , “Kamu janji kan, bakalan dateng lagi?” kata pemuda sambil mengacungkan jari kelingkingnya, “emang kenapa, harus ya?” jawab Carlita dengan nada sedikit kesal, “Jawab aja iyaa.. susah banget!” sahut pemuda dengan sedikit memaksa “Iyaaaaa...” jawab Carlita sambil mengacungkan kelingkingnya.

#ToBeContinue
 

Life Template by Ipietoon Cute Blog Design